Penyebab dan Gejala Anak Pendek (Stunting) serta Cara Menanganinya

Indonesia masih mengalami permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu masalah gizi yang menjadi perhatian utama saat ini adalah masalah tingginya anak balita pendek (Stunting).



Stunting adalah sebuah kondisi dimana tinggi badan sseorang ternyata lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain pada umumnya (yang seusia).

Berberapa data mengenai Balita Stunting (Tinggi Badan per Umur) adalah sebagai berikut:
  1. Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 37,2%
  2. Pemantauan Status Gizi Tahun 2016, mencapai 27,5%
  3. Batasan WHO < 20%
  4. Hal ini berarti pertumbuhan yang tidak maksimal dialami oleh sekitar 8,9 juta anak Indonesia, atau 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting
  5. Lebih dari 1/3 anak berusia di bawah 5 tahun di Indonesia tingginya berada di bawah rata-rata.

Balita Stunting
Balita Stunting

Penyebab Anak Balita Pendek (Stunting)


Kurangnya gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan pada masa awal anak lahir, tetapi stunting baru nampak setelah anak berusia 2 tahun. Oleh karena itu, sebaiknya kita ketahui sejak dini tentang penyebab anak balita pendek (stunting).

Stunting disebabkan oleh Faktor Multi Dimensi. Intervensi paling menentukan pada 1.000 HPK (1000 Hari Pertama Kehidupan).

Penyebab Stunting
Penyebab Stunting

Adapun penyebab anak balita pendek/kekerdilan (stunting) adalah sebagai berikut:

Praktek pengasuhan yang tidak baik

  • Kurang pengetahuan tentang kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan
  • 60 % dari anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan ASI ekslusif
  • 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima Makana Pengganti ASI

Terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan anc (ante natal care), post natal dan pembelajaran dini yang berkualitas

  • 1 dari 3 anak usia 3-6 tahun tidak terdaftar di Pendidikan Aanak Usia Dini
  • 2 dari 3 ibu hamil belum mengkonsumsi suplemen zat besi yang memadai
  • Menurunnya tingkat kehadiran anak di Posyandu (dari 79% di 2007 menjadi 64% di 2013)
  • Tidak mendapat akses yang memadai ke layanan imunisasi

Kurangnya akses ke makanan bergizi

  • 1 dari 3 ibu hamil anemia
  • Makanan bergizi mahal

Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi

  • 1 dari 5 rumah tangga masih BAB diruang terbuka
  • 1 dari 3 rumah tangga belum memiliki akses ke air minum bersih

Gejala Anak Balita Pendek (Stunting)


Anak balita stunting dapat dikenali dengan ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Tanda pubertas terlambat
  2. Performa buruk pada tes perhatian dan memori belajar
  3. Pertumbuhan gigi terlambat
  4. Usia 8 - 10 tahun anak menjadi lebih pendiam, tidak banyak melakukan eye contact
  5. Pertumbuhan melambat
  6. Wajah tampak lebih muda dari usianya.

Dampak buruk Stunting


Adapun dampak buruk yang ditimbulkan oleh stunting adalah:
  • Jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh
  • Dalam jangka panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan resiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua

Bagaimana Menangani Stunting?


Penangan stunting dilakukan melalui Intervensi Spesifik dan Intervensi Sensitif pada sasaran 1.000 hari pertama kehidupan seorang anak sampai berusia 6 tahun.

Intervensi Gizi Spesifik


Ini merupakan intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan berkontribusi pada 30% penurunan tunting. Kerangka kegiatan intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan pada sektor kesehatan.

I. Intervensi dengan sasaran Ibu Hamil:

  1. Memberikan makanan tambahan pada ibu hamil untuk mengatasi kekurangan energi dan protein kronis.
  2. Mengatasi kekurangan zat besi dan asam folat.
  3. Mengatasi kekurangan iodium.
  4. Menanggulangi kecacingan pada ibu hamil.
  5. Melindungi ibu hamil dari Malaria.

II. Intervensi dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 0-6 Bulan:

  1. Mendorong inisiasi menyusui dini (pemberian ASI jolong/colostrum).
  2. Mendorong pemberian ASI Eksklusif.

III. Intervensi dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 7-23 bulan:

  1. Mendorong penerusan pemberian ASI hingga usia 23 bulan didampingi oleh pemberian MP-ASI.
  2. Menyediakan obat cacing.
  3. Menyediakan suplementasi zink.
  4. Melakukan fortifikasi zat besi ke dalam makanan.
  5. Memberikan perlindungan terhadap malaria.
  6. Memberikan imunisasi lengkap.
  7. Melakukan pencegahan dan pengobatan diare.

Intervensi Gizi Sensitif


Idealnya dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan diluar sektor kesehatan dan berkontribusi pada 70% Intervensi Stunting. Sasaran dari intervensi gizi spesifik adalah masyarakat secara umum dan tidak khusus ibu hamil dan balita pada 1.000 Hari PertamaKehidupan (HPK).
  1. Menyediakan dan Memastikan Akses pada Air Bersih.
  2. Menyediakan dan Memastikan Akses pada Sanitasi.
  3. Melakukan Fortifikasi Bahan Pangan.
  4. Menyediakan Akses kepada Layanan Kesehatan dan Keluarga Berencana (KB).
  5. Menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
  6. Menyediakan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal).
  7. Memberikan Pendidikan Pengasuhan pada Orang tua.
  8. Memberikan Pendidikan Anak Usia Dini Universal.
  9. Memberikan Pendidikan Gizi Masyarakat.
  10. Memberikan Edukasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi, serta Gizi pada Remaja.
  11. Menyediakan Bantuan dan Jaminan Sosial bagi Keluarga Miskin.
  12. Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Gizi.

Tulisan ini dikutip dari Buku Saku Desa Dalam Penanganan Stunting yang diterbitkan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Tahun 2017.

Semoga dapat bermanfaat untuk para pembaca, silakan bagikan melalui media sosial, mungkin ada teman lain yang membutuhkan.

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.