keluar darah saat menopause


Menopause adalah berhentinya menstruasi yang sudah berturut2 selama satu tahun. Apabila dalam masa menopause timbul bercak darah, atau perdarahan melalui vagina, anda harus segera memeriksaannya ke dokter kandungan. Perdarahan pada masa menopause selalu dicurigai penyebabnya adalah kanker endometrium atau kanker rahim. Walaupun tidak musti dicurigai kanker, karena bisa saja penyebabnya adalah polip dalam rahim (jinak), namum pemeriksaan sebaiknya dilakukan segera. Jika memang terdiagnosa kanker, dan masih dalam stadium awal, yaitu sel kanker hanya ditemukan di rahim saja, tidak di leher rahim, tidak menyebar ke usus, hati dan organ lain, maka angka harapan hidupnya sangat baik.

Resiko kanker rahim ada pada wanita yang tidak pernah melahirkan, gemuk, pengidap diabetes melitus dan hipertensi dan terapi hormon.

Apa yang akan ditanyakan dokter saat anda datang?
- Umur berapa anda dapat mens pertama kalinya?
- Kapan anda terakhir kali mens? Apakah ini pertama kalinya anda mengalami flek atau perdarahan setelah anda menopause?
- Apakah anda punya anak? berapa?
- Apakah anda pernah mendapat terapi hormon estrogen?
- Apakah anda punya penyakit kronis? diabetes? hipertensi? gangguan darah?
- Apakah anda saat ini minum obat2an tertentu?
- Apakah di keluarga anda ada yang menderita kanker? siapa? Kanker apa?
- Apakah tumor/kanker payudara pernah anda alami?

Setelah itu dokter akan memeriksa dengan menggunakan speculum, meraba melalu vagina dengan jari, dan USG transvaginal. Pada pemeriksaan dengan USG, jika lapisan dalam rahim atau endometrium menebal (lebih dari 5 mm) maka harus dilakukan pemeriksaan selanjutnya yaitu melihat endometrium tersebut melalui kamera atau histeroskopi.


Di bawah ini adalah gambar USG transvaginal seorang pasien dengan perdarahan post menopause.  

Lapisan endometrium pada wanita menopause seharusnya sangat tipis, kurang dari 5 mm, karena hormon2 pengatur siklus mens sudah tidak ada, dan rahim tidak dipersiapkan untuk hamil. Namun pada penderita kanker rahim, lapisan endometrium terjadi penebalan dan strukturnya irreguler.


Di bawah ini adalah gambar endometrium hasil histeroskopi pada pasien dengan kanker rahim.



Endoskopi dilakukan untuk melihat lapisan rahim. Lalu lapisan ini dikuret untuk diperiksakan histologinya. Apakah sel lapisan endometrium ini berubah (kanker)?

Untuk mengetahui stadium kanker, dilakukan pemeriksaan selanjutnya sebelum operasi (staging):
- USG abdomen (melihat adakah metastase/ penyebaran sel kanker di hati dan ginjal)
- R�ntgen dada (untuk melihat metastase di paru2)
- Cystoscopy (melihat kandung kemih dengan teropong kamera, apakah ada metastase ke kandung kemih? biasanya dilakukan bareng dengan pemeriksaan histeroskopi.
- Rectoscopy/ Colonoscopy (melihat adanya metastase ke usus besar)

Setelah itu dilakukan pengangkatan rahim atau hysterectomy, termasuk indung telur dan saluran telurnya. Dalam kasus kanker stadium tertentu, dilakukan pula pengangkatan kelenjar limfe di perut (Paraaortal, Pelvine).

Di bawah ini ada gambar stadium kanker rahim. Penyebaran tumornya bisa dilihat warna yang hijau.

Stad I: Tumor hanya di rahim saja
Stad II: Tumor merambat ke mulut rahim
Stad III: Tumor merambat ke vagina, ke indung telur/ ovum, ke kelenjar limfe sekitar rahim
Stad IV: Tumor merambat ke Kandung kemih dan usus besar

Terapi selanjutnya tergantung stadium tumor, bentuk sel kankernya (Grading-WHO), seberapa jauh metastasenya dan keadaan pasiennya.

Semoga Artikel ini bermanfaat.

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.